Jum'at lalu IHSG jatuh 74,575 poin (-2,16%) ke level 3.379,543, dengan total transaksi Rp 6,853 triliun, dimana foreign nett sell sebanyak Rp 1,03 triliun. Rupiah ditutup melemah 25 poin ke Rp 9.075/$.
Penutupan perdagangan Jumat, Dow Jones naik 49,04 poin (+0,41%) ke level 11.871,84, S&P 500 naik 3,09 poin (+0,24%) ke level 1.283,35, namun Nasdaq turun 14,75 poin (-0,55%) ke level 2.689,54. Dalam sepekan, Dow naik +0,7%, S&P turun -0,8% dan Nasdaq jatuh -2,4%. Sehingga secara weekly, ini merupakan kenaikan Dow Jones selama 8 minggu berturut-turut. Wall Street naik setelah General Electric dan Google mengumumkan pendapatannya yang cemerlang sehingga memberikan sinyal positif pada pemulihan ekonomi.
Selama pekan ini, IHSG turun 189,601 poin (-5,31%), dimana asing tercatat masih terus melakukan jual bersih sebesar Rp 975,07 miliar. Banyaknya sentimen negatif seperti turunnya harga minyak dibawah $90/barrel, turunnya bursa regional Asia karena kekhawatiran pengetatan yang akan dilakukan China dan kekhawatiran akan tingginya inflasi, serta keluarnya dana Asing dari bursa yang disebabkan oleh membaiknya kondisi perekonomian di US, dan yang terakhir issue mulai memanasnya suhu politik terkait mafia pajak.
Jika kita mau melihat dan berpikir jernih, semua masalah kekhawatiraan itu rasanya sudah terlalu berlebihan. Harga minyak memang berfluktuasi namun secara jangka panjang masih akan naik, sedangkan kekhawatiran akan tingginya inflasi dan pengetatan yang dilakukan dengan menaikan suku bunga oleh beberapa negara, hal ini memang diperlukan untuk menjaga ekonomi agar tidak overheating dan mengalami bubble. Memang kebijakan itu akan membuat pertumbuhan ekonomi sedikit melambat, namun jika ekonomi dunia masih tumbuh dan krisis telah berlalu, tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Issue mengenai naiknya suhu politik tampaknya terlalu dilebih2kan. Sedangkan yang menjadi issue terbesar sejak awal tahun adalah tingginya inflasi dan dinaikannya BI Rate. Ini adalah cerita lama seperti sebelum2nya, yang sudah sering kita alami. Panik, kemudian normal lagi. Coba kita flashback ke tahun 2005-2006. Pada waktu itu harga minyak naik ke posisi tertingginya dilevel $80/barrel, sehingga pemerintah menaikan harga premium dari 4000 ke 6500/liter. Inflasi tinggi, BI rate naik diatas 10%, Rupiah melemah secara signifikan ke Rp. 12.000/US $. Pada waktu itu IHSG juga mengalami rally sejak oktober 2003 dari level 350an hingga mei 2006 di level 1550, dan karena tekanan inflasi yang tinggi akhirnya jatuh dari 1553 (11 mei 2006) ke level 1234 (14 juni 2006) berarti penurunan sekitar 20%. Bisa dibayangkan ketakutan dan kepanikan pelaku pasar pada waktu itu, setelah indeks rally selama 2,5 tahun dan naik hampir 4,5 kali lipat, ditambah dengan masih traumanya oleh bayang2 krisis tahun 1998, namun setelah itu semuanya dapat dilewati. Harga premium kembali turun ke 4500/liter, inflasi terkendali dan indeks rally kembali hingga Januari 2008 di level 2838.
Jika keadaan pada waktu itu sangat mengkhawtirkan, apalagi sekarang, dimana fundamental ekonomi kita sudah jauh lebih baik. Rupiah stabil di level 9000 an/US $, cadangan devisa yang naik ke level tertinggi sepanjang sejarah (BI memproyeksikan cadangan devisa RI akan mencapai US$ 112,6 miliar di akhir 2011, naik dari 2010 sebesar US$ 96,2 miliar. Jumlah itu dapat menutup 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri jangka pendek pemerintah), keadaan perbankan kita juga jauh lebih baik dari waktu itu, dimana akses perbankan saat ini jauh lebih mudah dan baik serta NPL (Rasio Kredit Bermasalah) industri perbankan tahun 2010 mencatat angka terendah sepanjang sejarah Indonesia. BI mencatat NPL per Desember 2010 sebesar 3,0% atau turun 30 bps dibanding Desember 2009 yang sebesar 3,3%. Dan kalau kita lihat kejadian krisis 2008 lalu, meski sempat panik, namun krisis 2008 adalah "tonggak" yang menunjukan seberapa kuatnya perbankan kita. Apalagi saat ini cuma masalah kekhawatiran akan inflasi dan BI rate. Selama BI Rate masih dibawah 10%, dipastikan sektor riil masih dapat bergerak dan pertumbuhan ekonomi masih dapat melaju. Dan jika BI Rate dinaikan, diperkirakan arus dana asing akan kembali masuk ke Indonesia, karena return yang ditawarkan lebih tinggi dan lebih menarik.
Dari analisa diatas, diperkirakan penurunan indeks yang sudah mencapai hampir 12% dari level tertingginya, sudah mulai terbatas. Namun penurunan lebih lanjut masih memungkinkan terjadi oleh "faktor psikologis pasar" yang saat ini memang lebih dominan. Perkiraan aksi jual ini akan berakhir awal bulan depan, seiring keluarnya data inflasi. BPS memperkirakan inflasi Januari 2011 sekitar 0,5% dan inflasi inti sekitar 4% yang berati lebih rendah dari inflasi Desember 2010. Apalagi rilis laporan keuangan perbankan yang mungkin akan rilis dalam beberapa minggu kedepan, malahan sudah ada perbankan yang rilis laporan keuangan mereka walaupun masih "unaudited" (BMRI mencatat laba bersih 2010 sebesar Rp 8,5 triliun). Ditambah dengan akan adanya IPO Garuda dan Right Issue BMRI diperkirakan akan membuat pasar kembali ramai.
Jika yakin indeks dalam jangka panjang masih bagus, maka bukankah penurunan lebih lanjut merupakan saat yang tepat untuk mengoleksi saham di harga murah? Cermati saham2 yang berfundamental baik, dengan prospek kinerja kedepan yang masih tumbuh. Lakukan strategi Buy on Weakness (BOW) dengan Money Management yang baik.
IHSG:
Berdasarkan pola Triple Top yang terbentuk, maka penurunan dari resist 3789 ke support 3529 (3789-3529=260 poin), menciptakan peluang menuju 3269 (dari 3529-260 poin=3269) dan sebagai support pertahanan kuatnya adalah garis MA 200 (garis warna hijau) yang saat ini berada di sekitar 3227.
Secara teknikal IHSG baru dapat dikatakan mematahkan uptrend jangka panjang jika tembus level MA 200 nya.
Stochastic down trend dan menurun menuju over sold area
Momentum MACD melemah dan arah downtrending
Support 3309... 3269... 3227
Resist 3402... 3432
BMRI:
Harga Right Issue rencananya akan diumumkan besok senin.
Dengan PER yang 13X membuat valuasinya menarik, ditambah dengan adanya corporate action seperti Right Issue dan IPO Garuda yang dipakai untuk membayar hutang kepada BMRI, diperkirakan akan menjadi sentimen positif.
Jika berhasil break dan close diatas resisten short term downtrend channel di 5750, akan berpeluang menuju 6000 kembali
Stochastic golden cross di oversold area, MACD downtrending
Lakukan BOW dan akan sangat bagus jika bisa dapat di bawah harga 5500
Support 5450... 5350
Resist 5750... 6000... 6100
SMGR:
Penurunan tertahan oleh support kuat di 7250 yang terbukti berhasil menahan penurunan selama 3 kali.
Stochastic golden cross di oversold area, MACD masih downtrending
Candle keluar dari Bolinger Band (BB) full body, dan setiap kali candle keluar dari BB, selalu masuk kedalam lagi.
Kemaren di buka open gap, sehingga berpeluang menutup gap nya di 7950-8000
Lakukan BOW pada support2 kuatnya
Support 7600... 7250
Resisten 8000... 8250... 8400
INDF:
Dengan PER 13X dan ROE 25%, maka penurunan lebih lanjut akan membuat valuasi harganya menarik.
Penurunan tertahan oleh support trendline
Harga ditutup diatas MA 200, yang juga menjadi support kuatnya
Stochastic dan MACD death cross dengan arah downtrending
Lakukan BOW secara bertahap pada level2 supportnya
Support 4450... 4300
Resist 4650... 4800
Have an Amazing Trade and Good Luck...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar