Selasa, 18 Januari 2011

IHSG masih "Lesu Kurang Darah"

Senin kemaren IHSG melemah 33,413 poin (-0,94%) ke level 3.535,731, dengan total transaksi senilai Rp 3,68 triliun, dimana foreign nett sell sebesar Rp 120,964 miliar. Indeks melemah akibat kekhawatiran investor akan tingginya inflasi bulan ini menyusul pernyataan BI yang sedang mencari waktu tepat untuk menaikan suku bunga membuat banyak investor ragu-ragu untuk masuk kepasar.
 
Semalam Bursa Wall Street tutup memperingati hari Martin Luther King, sedangkan mayoritas Bursa Eropa bergerak flat dan ditutup mix tipis
Bursa regional juga tertekan oleh isu tingginya inflasi di negara mereka, sehingga rata2 bursa di Asia juga memerah pada tutupan kemaren. Pelemahan Bursa asia juga disebabkan sikap waspada investor oleh kenaikan GWM China sebesar 0,5% (50 basis poin) ke level 19%, yang merupakan kenaikan ke 7 kali sejak 2009. Kebijakan yang akan berlaku per 20 Januari ini bertujuan untuk menekan inflasi di negara tersebut. Kebijakan  pengetatan likuiditas ini dikhawatirkan akan menggerus permintaan China atas komoditas RI khususnya batubara dan CPO sehingga menyebabkan penurunan saham2 sektor tersebut dalam jangka pendek.
 
Sentimen positif datang dari Lembaga Pemeringkat Moody's yang menaikan peringkat surat utang Indonesia dari Ba2 menjadi Ba1, atau satu peringkat di bawah 'investment grade', dengan alasan ada perbaikan dari sisi surat utang pemerintah, membaiknya prospek investasi langsung PMA dan cadangan devisa yang cukup besar. Dengan kenaikan ini biaya utang pemerintah bakal lebih murah, sebab tingkat bunga yang dikenakan bakal menjadi lebih murah, dan hal ini bakal mendorong peningkatan investasi asing di Indonesia.
Sentimen lain adalah naiknya kembali harga minyak dunia ke level US$ 91/barrel, setelah OPEC menaikkan proyeksi permintaan minyak global di tahun 2011, sebesar 87,32 juta barel per hari, naik 1,23 juta bph (1,43%) dibandingkan  2010. Besaran dan kecepatan pemulihan ekonomi dunia dan panjangnya musim dingin di belahan utara dunia menjadi alasannya. 
Perdagangan kemaren berlangsung sepi, dengan indeks bergerak merah sepanjang perdagangan. Beberapa saham bluechip ditekan turun tanpa volume, namun menjelang penutupan terlihat adanya upaya akumulasi untuk menjaga level support 3530.
 
 
AALI:
AALI mengincar kenaikan pertumbuhan produksi sebesar 5% di tahun ini.
Peforma AALI berpotensi terdongkrak akibat kenaikan harga CPO dunia.
Turun menutup gap bawah di 24.950-25.250, dengan volume yang tipis
Penurunan tertahan oleh MA 5 dan MA 20
Strategi buy on weakness di support trendline 24.200
 
 
 
SMGR:
SMGR menguasai 44% pangsa pasar semen di Indonesia dan target produksi SMGR di tahun 2011 ini sebesar 20,5 juta ton, naik tipis 2,5% dari tahun sebelumnya.
Rencana mengakuisisi pabrik semen di luar negeri dan pembangunan 2 pabrik baru yaitu di Tonasa, SulSel dan di Tuban, Jawa Timur akan berdampak postif pada kinerjanya kedepan.
Stochastic deathcross kembali dan akan memasuki area oversold kembali, MACD melemah turun.
Strategy buy on weakness di support 8600


UNVR:
UNVR termasuk defensive stock yang biasanya tidak terpengaruh pada saat indeks koreksi.
Tutup diatas MA 50 dan ditutup tepat di resist trendline jangka pendeknya
Stochastic dan MACD uptrending golden cross, namun kenaikan tidak didukung oleh volume yang besar
Support 15.500... 16.000
Resist 17.000... 17.500 
 
 
BLTA:
Membaiknya perekonomian global dan mulai diberlakukannya kebijakan asas cabotage per januari 2011 yang mengaharuskan kapal asing memakai bendera indonesia diduga menjadi sentimen positif bagi kinerja BLTA pada tahun ini.
Stochastic dan MACD uptrending golden cross
Volume meningkat diatas VMA 20 harinya.
Support 350... 360
Resisten 380...400...410
 
 
 
Have an Amazing Trade and Good Luck...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar