Jumat (8/4/2011), IHSG ditutup naik 11,228 poin (+0,30%) ke level 3.741,811, total transaksi Rp 19,7 triliun, dan Rupiah ditutup stagnan di Rp 8.650/US $. Nilai transaksi meningkat tajam dikarenakan pembelian BRAU oleh Vallar PLC senilai Rp 14,1 triliun. Jika transaksi tersebut tidak dihitung, maka total transaksi di pasar reguler menjadi sekitar 4,6 triliun dan foreign mencatatkan net buy sebesar 510 miliar.
Sementara itu, Dow Jones ditutup turun 29,44 poin (-0,24%) ke level 12.380,05. S&P 500 ditutup turun 5,34 poin (-0,4%) ke level 1.328,17 dan Nasdaq turun 15,73 poin (-0,56%) ke level 2.780,41. Bursa Wall Street jatuh setelah harga minyak mentah melonjak ke atas US$ 112/barel dan kekhawatiran soal pemotongan anggaran negara yang belum juga disepakati oleh pemerintah dan dewan.
IHSG mendapatkan sentimen positif pada akhir pekan lalu dengan dinaikkannya peringkat hutang Indonesia menjadi BB+ dengan outlook positif oleh S&P. Capaian ini berarti satu notch sebelum 'Investment Grade', dan market merespon langkah S&P ini, sehingga indeks masih mampu ditutup positif. Sebetulnya pencapaian ini bukanlah hal yang baru, karena sebelumnya Fitch Ratings pada Februari lalu, telah lebih dulu menaikkan peringkat Indonesia yang di BB+ dari stabil ke positif , demikian juga dengan Moody's pada bulan Januari lalu juga telah menaikkan peringkat Indonesia menjadi Ba1 dengan outlook stabil. Sehingga Indonesia pun semakin mantap menuju ke level 'Investment Grade' dalam beberapa bulan ke depan yang diperkirakan akan dicapai pada Semester II tahun ini.
Secara TA, indeks sudah mengalami overbought. Demikian juga dengan Bursa Global, keadaannya tidak jauh berbeda. Namun untuk turun, sepertinya juga masih belum mau. Berbagai sentimen positif mulai dari naiknya rating hutang RI, optimisme pertumbuhan ekonomi kuartal 1 yang diatas 6%, ekpektasi rendahnya tingkat inflasi hingga bulan depan akibat masih memasuki panen raya, masih akan menjadi pendorong naiknya indeks dalam jangka pendek. Namun sentimen ini mulai dibayangi oleh tingginya harga minyak, yang saat ini sudah mencapai US $113/barrel. Tingginya harga minyak akan memberikan tekanan bagi kenaikan inflasi. Resiko inflasi inilah yang perlu untuk diwaspadai.
IHSG mendapatkan sentimen positif pada akhir pekan lalu dengan dinaikkannya peringkat hutang Indonesia menjadi BB+ dengan outlook positif oleh S&P. Capaian ini berarti satu notch sebelum 'Investment Grade', dan market merespon langkah S&P ini, sehingga indeks masih mampu ditutup positif. Sebetulnya pencapaian ini bukanlah hal yang baru, karena sebelumnya Fitch Ratings pada Februari lalu, telah lebih dulu menaikkan peringkat Indonesia yang di BB+ dari stabil ke positif , demikian juga dengan Moody's pada bulan Januari lalu juga telah menaikkan peringkat Indonesia menjadi Ba1 dengan outlook stabil. Sehingga Indonesia pun semakin mantap menuju ke level 'Investment Grade' dalam beberapa bulan ke depan yang diperkirakan akan dicapai pada Semester II tahun ini.
Secara TA, indeks sudah mengalami overbought. Demikian juga dengan Bursa Global, keadaannya tidak jauh berbeda. Namun untuk turun, sepertinya juga masih belum mau. Berbagai sentimen positif mulai dari naiknya rating hutang RI, optimisme pertumbuhan ekonomi kuartal 1 yang diatas 6%, ekpektasi rendahnya tingkat inflasi hingga bulan depan akibat masih memasuki panen raya, masih akan menjadi pendorong naiknya indeks dalam jangka pendek. Namun sentimen ini mulai dibayangi oleh tingginya harga minyak, yang saat ini sudah mencapai US $113/barrel. Tingginya harga minyak akan memberikan tekanan bagi kenaikan inflasi. Resiko inflasi inilah yang perlu untuk diwaspadai.
Meskipun saat ini IHSG masih cenderung naik namun perlu dicermati resisten berikutnya di sekitar level 3767 (fibo 123,6%), yang jika masih mampu ditembus akan mencoba untuk testing all time high IHSG di level 3789. Nah di level ini IHSG harus diwapadai, karena jika tidak mampu ditembus, maka IHSG akan membentuk pola triple tops reversal. Apalagi di 3790 ini juga merupakan fibo 138,2%, sehingga diperkirakan akan menjadi tantangan yang besar bagi indeks untuk naik lebih lanjut. Waspadai aksi profit taking pada pekan depan mengingat kondisi yang sudah overbought. Untuk sepekan kedepan diperkirakan support akan berada di 3730--3695--3670 dan resiten yang akan coba untuk ditembus akan berada di 3750--3767--3790. Sedangkan untuk saham2nya, perhatikan sektor pertambangan, khususnya coal sector dan tambang2 logam mengingat naiknya harga2 komoditinya pada akhir pekan lalu menyusul tingginya harga minyak dunia.
INCO:
Break out dari pola ascending tringle dengan volume yang besar
Kenaikan sementara ini tertahan oleh MA 50
Stochastic mulai golden cross lagi
MACD menguat kembali dan mulai bergerak naik
Target berdasarkan pola ascending triangle yang di break out, akan menuju level 5075-5150
Kenaikan komoditi nickel akhir pekan lalu, mendukung penguatan INCO lebih lanjut
Support kuat saat ini ada di 4800, trading buy dengan target menuju 5050-5075
Support 4800...4725
Resist 4875...4950...5050
TINS:
Break resisten 2800 dengan volume yang besar
Stochastic golden cross kembali bergerak menuju area over bought
MACD menguat dan bergerak naik menembus centreline 0.
Perhatikan resisten medium downtrend line yang berada di 2850, yang jika berhasil ditembus akan menuju level 2975-3000 kembali
Dengan kenaikan harga komoditi timah yang menyentuh level tertingginya kembali untuk tahun ini, sepertinya resisten 2850 tersebut akan mudah untuk dilewati untuk menuju level 3000 an kembali
Support 2800...2725...2675
Resist 2850...2900...2975
ANTM:
Termasuk saham yang laggard di sektornya
Stochastic masih golden cross di overbought area
MACD menguat dan masih bergerak naik dalam posisi golden cross
Volume masih bergerak moderate sedikit dibawah VMA 20 hariannya
Masih ingat dengan postingan kami akhir bulan lalu ketika pola ascending triangle di break out? Bagi yang membeli dan masih menyimpan, boleh tetap hold karena harga masih bergerak naik menuju target terdekat kami di level 2450-2475, selama tidak turun dibawah 2300 lagi.
Walaupun tergolong lambat, tapi ANTM masih menyipan potensi untuk naik lebih tinggi lagi. Selain harga komoditi nickel dan emas masih yang naik, kinerja perusahaan yang bagus dan ekpektasi pembagian deviden yang tinggi akan mendorong penguatan saham ini lebih lanjut.
Bagi yang belum punya, trading buy dengan target terdekat 2450, dan medium target di level 2600-2625, dengan stop loss di level 2275
Support 2325...2275
Resisten 2425...2475
Have an Amazing Trade and Happy Profit




Tidak ada komentar:
Posting Komentar